Kendati melahirkan merupakan perjuangan antara hidup dan mati, namun tak satu pun ibu pernah gentar menghadapinya. Proses persalinan yang perih dan menyakitkan, ternyata hilang tak berbekas hanya dengan mendengar tangisan kecil dari bibir mungil bayinya. Tak cukup sampai di situ, ibu pun rela mengurangi jam tidurnya untuk mengganti popok atau menyusui ketika tengah malam bayinya terbangun menangis. Tapi anak-anak kerap melupakan pengorbanan itu. Acap membantah, tak segan menghardik, bahkan ketika sang ibu menua, mereka sibuk dengan urusan sendiri. Tak mau peduli kebutuhan ibu yang butuh perhatian. Nah, beranjak dari hal itu, kami ingin mengingatkan kembali pentingnya peran ibu dalam kehidupan generasi manusia. Meski tak pamrih, namun paling tidak memberi penghargaan terhadap jerih yang telah dilalui Ibu. Tulisan ini sekaligus pula sebagai momen untuk turut memperingati hari Ibu, 22 Desember.
Kali ini Profile menampilkan satu sosok Ibu bernama Sitti Munadarma. Ia aktivis partai politik dengan kegiatan seabrek. Dunia politik dikenalnya sejak mahasiswa. Untuk seorang perempuan, aktivitas berpolitik masih dianggap hanya dunia lelaki yang penuh intrik dan haus kekuasaan. Diperlukan energi dan kekuatan besar bagi perempuan untuk terlibat di sebuah partai politik. Muna—sapaan karibnya-- mampu bertahan dan bergerak dinamis di dalamnya hingga menduduki posisi sebagai Sekretaris DPC Partai PDI Perjuangan Kota Kendari. Pada pemilihan legislatif lalu, ia sempat bertarung sebagai calon legislatif untuk DPRD Kendari, namun belum terpilih.
Aktivitas partai yang mengharuskannya rapat hingga tengah malam, berkeliling ke berbagai daerah, diakuinya lebih mudah karena sudah terbiasa. Namun, ketika harus berhadapan dengan proses persalinan, ia mengaku tak semudah berjibaku dalam parpol. Meski begitu, persalinan yang penuh perjuangan itu mampu ia lewati berkat fisiknya yang juga kuat lantaran telah terbiasa dengan kegiatan partai yang memerlukan energi besar. Berikut kisahnya ketika melahirkan anak pertamanya, Mohammad Rezki Abdillah Putra (4 tahun).
8 Oktober 2005, sekitar pukul 23.00 Muna merasakan perutnya mulas. Setiap kali mengejan, acapkali pula keluar cairan. Tak punya pengalaman melahirkan sebelumnya, ia dan Nasrudin suaminya mulai panik. Dini hari, bidan baru tiba. Ketika itu masih tahap bukaan satu. Ia tak diperbolehkan mengejan, sebaliknya dukun beranak yang datang tapi disembunyikan pihak keluarga, memperkenankannya. Tiba-tiba darah segar keluar terus menerus. Bidan berusaha menghentikan tapi tak bisa mengatasi, maka keesokan hari Muna dirujuk ke Puskesmas. Ketika itu sore sekitar pukul 15.00, pihak Puskemas menyuntikkan obat untuk merangsang bayi keluar.
Proses itu ternyata tak mempan, padahal tubuh Muna sudah sangat lemah. Bahkan diselingi dengan muntah yang tiada henti. Kepala bayi sudah muncul di mulut rahim, namun tak juga bisa keluar. Saking lamanya hingga kepala bayi sudah terlihat berkabut. Pihak Puskesmas tak ingin berakibat pada kondisi bayi dan ibu maka Muna kembali dirujuk ke RSUD Provinsi Sultra. Sekitar pukul 19.00 ia tiba di rumah sakit dan langsung mendapat penanganan yang sama, yakni kembali dirangsang pakai obat. Tak juga berhasil, pihak rumah sakit menyarankan proses vakum. Namun, pihak keluarga khawatir proses medis itu berpengaruh pada kondisi otak bayi. “Kalau tak mengalami idiot, anaknya bisa sangat cerdas. Hanya dua pilihan itu kalau melahirkan dengan proses vakum. Kami memutuskan tidak,” kenang Muna.
Anehnya, air bersih ternyata tak tersedia. Padahal proses persalinan membutuhkan banyak air khususnya untuk memandikan bayi. Akhirnya, ia kembali dirujuk di Rumah Sakit Korem sekitar pukul 21.00. Tubuhnya yang tak mendapat asupan makanan dan terus mengalami muntah-muntah membuatnya semakin lemah. Tapi, Muna tak mau putus semangat. Ia tahu, tanpa semangat, ia tak bisa melahirkan anaknya dengan sehat. “Kalau saya tidak kuat, saya tidak tahu apa yan terjadi. Untung saya punya fisik yang kuat akibat aktivitas saya selama ini,” ungkap perempuan yang kini menjabat sebagai staf ahli di DPRD Sultra.
Pukul 22.00, Muna beserta keluarga tiba di RS Korem. Ia pun segera di bawa ke sebuah ruangan tapi bukan ruang persalinan yang biasa. Ruang operasilah yang disiapkan pihak rumah sakit. Cesar menjadi pilihan karena bayi tak juga dapat dikeluarkan. Ketika masuk ke ruang operasi, suaminya berbisik agar berdoa dan mementingkan keselamatan dirinya dan bayi mereka.
Usai persalinan, ia yang masih setengah sadar terheran-heran karena bercak darah ada di mana-mana. Muna membatin, kenapa darah begitu terlihat banyak memerciki pakaian dokter. Ia pun baru mengerti ternyata, selain proses persalinan, tim dokter juga mengangkat tumor dari rahimnya. “Ditemukan tumor sehingga sekalian diangkat. Saya sempat kaget juga,” tutur Muna. 10 Oktober 2005, ia berhasil melahirkan seorang bayi lelaki yang sehat.
Perjuangannya belum berhenti, pasca operasi ia baru merasakan kesakitan yang luar biasa. Ia juga belum bisa menyusui bayinya. Namun ASI pertama yang keluar tetap ia berikan, hanya saja akibat obat china yang ia minum, membuat air susunya mengering sehingga harus dibantu dengan susu formula. Setelah empat hari, ia diperkenankan pulang. Namun, ia tak lantas bisa beraktivitas seperti biasa. Proses operasi membuatnya hanya bisa mendekam di tempat tidur. Ia masih harus dibantu mandi selama sebulan. Ia mengaku beruntung, suaminya sangat baik dan perhatian. Ia mau mengerjakan seluruh kegiatan domestik termasuk menjaga bayi. “Ternyata penting hadir seorang suami yang baik dan pengertian. Karena pasca melahirkan yang kita butuhkan adalah rasa empati dan perhatian suami agar kita secara psikologis bisa semangat dan merasa diperhatikan,” ungkap ibu dari Mohammad Rezki Abdillah Putra.
Proses panjang saat melahirkan itu menyadarkannya pada satu hal, betapa pentingnya menghargai seorang Ibu. Ia menyadari kerap tak memperhatikan detil itu dan memaknai pentingnya Ibu dalam hidupnya. “Aktivitas yang padat seakan-akan membenarkan bahwa kita memang sibuk jadi tak banyak memperhatikan Ibu. Namun, saya sadari kini, ternyata Ibu dulu mengalami hal yang kini kualami saat melahirkan putra pertamaku. Begitu penuh perjuangan. Saya jadi tahu, kalau proses melahirkan sangat berat. Eh setelah besar sering membantah dan tak mendengar omongannya,” katanya sembari tertawa. (nurliah)
Kali ini Profile menampilkan satu sosok Ibu bernama Sitti Munadarma. Ia aktivis partai politik dengan kegiatan seabrek. Dunia politik dikenalnya sejak mahasiswa. Untuk seorang perempuan, aktivitas berpolitik masih dianggap hanya dunia lelaki yang penuh intrik dan haus kekuasaan. Diperlukan energi dan kekuatan besar bagi perempuan untuk terlibat di sebuah partai politik. Muna—sapaan karibnya-- mampu bertahan dan bergerak dinamis di dalamnya hingga menduduki posisi sebagai Sekretaris DPC Partai PDI Perjuangan Kota Kendari. Pada pemilihan legislatif lalu, ia sempat bertarung sebagai calon legislatif untuk DPRD Kendari, namun belum terpilih.
Aktivitas partai yang mengharuskannya rapat hingga tengah malam, berkeliling ke berbagai daerah, diakuinya lebih mudah karena sudah terbiasa. Namun, ketika harus berhadapan dengan proses persalinan, ia mengaku tak semudah berjibaku dalam parpol. Meski begitu, persalinan yang penuh perjuangan itu mampu ia lewati berkat fisiknya yang juga kuat lantaran telah terbiasa dengan kegiatan partai yang memerlukan energi besar. Berikut kisahnya ketika melahirkan anak pertamanya, Mohammad Rezki Abdillah Putra (4 tahun).
8 Oktober 2005, sekitar pukul 23.00 Muna merasakan perutnya mulas. Setiap kali mengejan, acapkali pula keluar cairan. Tak punya pengalaman melahirkan sebelumnya, ia dan Nasrudin suaminya mulai panik. Dini hari, bidan baru tiba. Ketika itu masih tahap bukaan satu. Ia tak diperbolehkan mengejan, sebaliknya dukun beranak yang datang tapi disembunyikan pihak keluarga, memperkenankannya. Tiba-tiba darah segar keluar terus menerus. Bidan berusaha menghentikan tapi tak bisa mengatasi, maka keesokan hari Muna dirujuk ke Puskesmas. Ketika itu sore sekitar pukul 15.00, pihak Puskemas menyuntikkan obat untuk merangsang bayi keluar.
Proses itu ternyata tak mempan, padahal tubuh Muna sudah sangat lemah. Bahkan diselingi dengan muntah yang tiada henti. Kepala bayi sudah muncul di mulut rahim, namun tak juga bisa keluar. Saking lamanya hingga kepala bayi sudah terlihat berkabut. Pihak Puskesmas tak ingin berakibat pada kondisi bayi dan ibu maka Muna kembali dirujuk ke RSUD Provinsi Sultra. Sekitar pukul 19.00 ia tiba di rumah sakit dan langsung mendapat penanganan yang sama, yakni kembali dirangsang pakai obat. Tak juga berhasil, pihak rumah sakit menyarankan proses vakum. Namun, pihak keluarga khawatir proses medis itu berpengaruh pada kondisi otak bayi. “Kalau tak mengalami idiot, anaknya bisa sangat cerdas. Hanya dua pilihan itu kalau melahirkan dengan proses vakum. Kami memutuskan tidak,” kenang Muna.
Anehnya, air bersih ternyata tak tersedia. Padahal proses persalinan membutuhkan banyak air khususnya untuk memandikan bayi. Akhirnya, ia kembali dirujuk di Rumah Sakit Korem sekitar pukul 21.00. Tubuhnya yang tak mendapat asupan makanan dan terus mengalami muntah-muntah membuatnya semakin lemah. Tapi, Muna tak mau putus semangat. Ia tahu, tanpa semangat, ia tak bisa melahirkan anaknya dengan sehat. “Kalau saya tidak kuat, saya tidak tahu apa yan terjadi. Untung saya punya fisik yang kuat akibat aktivitas saya selama ini,” ungkap perempuan yang kini menjabat sebagai staf ahli di DPRD Sultra.
Pukul 22.00, Muna beserta keluarga tiba di RS Korem. Ia pun segera di bawa ke sebuah ruangan tapi bukan ruang persalinan yang biasa. Ruang operasilah yang disiapkan pihak rumah sakit. Cesar menjadi pilihan karena bayi tak juga dapat dikeluarkan. Ketika masuk ke ruang operasi, suaminya berbisik agar berdoa dan mementingkan keselamatan dirinya dan bayi mereka.
Usai persalinan, ia yang masih setengah sadar terheran-heran karena bercak darah ada di mana-mana. Muna membatin, kenapa darah begitu terlihat banyak memerciki pakaian dokter. Ia pun baru mengerti ternyata, selain proses persalinan, tim dokter juga mengangkat tumor dari rahimnya. “Ditemukan tumor sehingga sekalian diangkat. Saya sempat kaget juga,” tutur Muna. 10 Oktober 2005, ia berhasil melahirkan seorang bayi lelaki yang sehat.
Perjuangannya belum berhenti, pasca operasi ia baru merasakan kesakitan yang luar biasa. Ia juga belum bisa menyusui bayinya. Namun ASI pertama yang keluar tetap ia berikan, hanya saja akibat obat china yang ia minum, membuat air susunya mengering sehingga harus dibantu dengan susu formula. Setelah empat hari, ia diperkenankan pulang. Namun, ia tak lantas bisa beraktivitas seperti biasa. Proses operasi membuatnya hanya bisa mendekam di tempat tidur. Ia masih harus dibantu mandi selama sebulan. Ia mengaku beruntung, suaminya sangat baik dan perhatian. Ia mau mengerjakan seluruh kegiatan domestik termasuk menjaga bayi. “Ternyata penting hadir seorang suami yang baik dan pengertian. Karena pasca melahirkan yang kita butuhkan adalah rasa empati dan perhatian suami agar kita secara psikologis bisa semangat dan merasa diperhatikan,” ungkap ibu dari Mohammad Rezki Abdillah Putra.
Proses panjang saat melahirkan itu menyadarkannya pada satu hal, betapa pentingnya menghargai seorang Ibu. Ia menyadari kerap tak memperhatikan detil itu dan memaknai pentingnya Ibu dalam hidupnya. “Aktivitas yang padat seakan-akan membenarkan bahwa kita memang sibuk jadi tak banyak memperhatikan Ibu. Namun, saya sadari kini, ternyata Ibu dulu mengalami hal yang kini kualami saat melahirkan putra pertamaku. Begitu penuh perjuangan. Saya jadi tahu, kalau proses melahirkan sangat berat. Eh setelah besar sering membantah dan tak mendengar omongannya,” katanya sembari tertawa. (nurliah)

Komentar
Posting Komentar