Taruhan Nyawa Salurkan BLT Suka Duka Petugas PT POS Indonesia

Bantuan Langsung Tunai (BLT) bisa jadi adalah primadona pemberitaan, khususnya bila penyaluranya tidak sesuai peruntukannya. Tapi tak banyak yang mengetahui kalau penyaluran dana kompensasi BBM itu membutuhkan kerja keras petugas Pos bahkan mempertaruhkan nyawa mereka.

Inilah yang terjadi pada petugas PT Pos Indonesia Cabang Tarakan. Membawa uang puluhan juta untuk disalurkan ke desadesa terpenci. Bahkan untuk mencapainya ada desa yang harus ditempuh hanya menggunakan speed boat atau ketingting. Rute yang berliku dilalui agar tak diketahui para perampok. Agar tak seorangpun dapat membuntuti, Kepala Pos Cabang Tarakan Samnur menuturkan bahwa mereka harus memulai perjalanan ketika telah menjelang dinihari.

"Kami pernah membawa uang Rp 800 juta untuk bisa ke daerah pedalaman di Malinau. Rasa degdegan terus menghantui kita. Uang sebesar ini akan membuat siapa saja hilang akal sehat. Tapi ya kita bawa enjoy saja. Lagian ada 1001 macam cara yang bisa kita tempuh untuk bisa mengecoh mereka," tutur Kepala Cabang PT Pos Tarakan, Samnur.

Untuk bisa mengatasi rasa takut, biasanya Samnur yang ditemani lima sampai enam anak buahnya ini membawa dua bilah mandau. Kata ayah dua anak ini untuk berjagajaga jika ada sergapan dari orang yang berniat jahat. Empat tahun bertugas di Tarakan tak membuatnya ingin menyudahi pekerjaannya. Suami dari Ani ini mengaku malah semakin betah. Tantangan yang ia hadapi lebih besar, namun ia merasa lebih damai. "Di sini kekeluargaan kami sangat besar. Daerahnya lebih sepi tanpa hiruk pikuk dunia kota yang sibuk. Makanya saya betah di sini," ucapnya.

Ia meminta pemerintah tak asal menuding jika PT POS tak mampu memenuhi target realisasi dalam pencairan BLT. Lelaki asal Mataram Lombok ini meminta petinggi pemerintahan untuk melihat langsung kondisi yang terjadi di lapangan. Di daerah Malinau yang merupakan daerah perbatasan dianggap merupakan lokasi yang paling sulit ditempuh. Kalaupun bisa ditempuh dengan pesawat kecil atau sungai, kerap alat transportasinya sulit diperoleh.

"Karena kondisi jalan yang sulit ditambah keamanan tidak menjamin, semua dana BLT itu kami asuransikan. Termasuk juga petugasnya. Ini standar yang harus kita pakai. Karena ini taruhannya nyawa. Beruntung belum pernah ada kejadian. Malahan pernah salah satu petugas kami sangat lugu, setelah pulang dari Malinau, dia bawa sisa uang puluhan juta. Setelah itu dia malah taruh di hotel dengan hanya memakai tas. Beruntung juga tidak terjadi masalah," katanya terkekeh.

Lelaki kelahiran Lombok 5 Desember 1965 ini mengaku bisa melalui segala kesulitan yang kini dialaminya itu. Pasalnya, ia juga mengalami masamasa sulit untuk menggapai pendidikannya. Ia menuturkan selama kuliah ia menjadi tukang tambal ban di sebuah bengkel untuk bisa meraih sarjana strata satunya di Pontianak dan Bandung. "Akhirnya selesai juga di Fisip Universitas Tanjungpura Pontianak meski dengan perjuangan keras. Makanya kondisi yang saat ini saya alami ketika menyalurkan BLT bukan masalah berat tetapi tantangan," ucapnya dengan senyum lebar. (lia)

Komentar