Istana, Michelle Obama Hingga Hollywood

Nekat dan cinta. Inilah dua kata penting yang menjalin bisnis Diana Irina Jusuf atau lebih dikenal dengan Dinny Jusuf. Ia tak mengenal dunia usaha apalagi dunia fashion. Padahal dua dunia ini bersentuhan erat dalam aktivitas yang kini ia geluti. Tapi, lantaran keputusannya sudah bulat, ia gigih bertahan. Meski semua ia mulai dari nol, tak ada pengalaman dan mengalami jatuh bangun, namun ia mampu bermetamorfosis. Dari berkecimpung di bidang sosial hingga menduduki jabatan penting sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komisi Nasional (Komnas) Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, kemudian akhirnya menjadi seorang pengusaha perempuan.



Toh, dua modal ini ternyata sangat berperan. Tanpa modal ini semangatnya mungkin sudah kendor jauh sebelum produk ia luncurkan. Jika tanpa modal nekat pula, ia mungkin sudah putus di tengah jalan. Pasalnya, memulai bisnis sangat membutuhkan modal besar. Ia sempat mendapat tentangan dari suami lantaran uang tabungan ia gunakan sebagai bekal modal. “Suami marah-marah karena uang tabungan kepakai terus. Tapi harus nekat, apapun kulakukan,” ucap Dinny dalam sebuah kesempatan diskusi di acara Workshop Wanita Wirausaha BNI-Femina, medio Februari lalu.

Kendati berbagai persoalan melanda, ia terus bertahan. Kecintaannya pada keindahan alam dan budaya Tana Toraja membuatnya berpikir untuk terlibat langsung. Ia ingin terjun langsung dalam melestarikan warisan budaya salah satu daerah tujuan wisata ini. Kain tradisional menjadi satu fokus perhatiannya. Ia tak tahu menahu tentang kain. Tapi ia tahu, mempertahankan warisan leluhur nusantara adalah sebuah usaha yang mahapenting. Tanpa keterlibatan warga Indonesia sendiri, warisan nenek moyang akan punah seiring lahirnya teknologi canggih dan modernisasi.

Penenun kain tradisional Tana Toraja mulai terkikis. Tak banyak lagi remaja Toraja ingin belajar menenun. Yang tersisa hanya kaum tua yang terus mencoba bertahan. Entah bertahan untuk melestarikan atau hanya bertahan untuk mendapat nafkah dengan berjualan kain tersebut. Alhasil kain tenun Toraja tak banyak dikenal. Dinny, mengamati itu.

Kunjungan ke kampung suaminya yang tadinya hanya ingin menikmati Toraja yang adem, tradisional, tak ingar bingar seperti Jakarta, tapi kemudian ia jatuh cinta. Ia tak hanya jatuh cinta pada kecantikan alam Toraja, tapi juga pada kain tradisionalnya. Ia melihat kain Toraja yang unik. Tanpa detail rumit, hanya sebuah garis lurus tanpa nuansa warna-warni menyolok. Yang utama pula dari semua itu, ternyata tenun kain Toraja lebih banyak dikerjakan oleh para perempuan. Ironisnya, perempuan penenun yang kebanyakan sudah berusia lanjut ini meski terlibat dalam perekonomian, toh mereka masih terpuruk secara finansial.

ia pun tergerak menjadi investor sosial. Ia mulai meriset kain, mengamati corak, meneliti proses pengerjaan hingga memprediksi peluang bisnis. Ibu dua anak ini tentu saja menjadi pemodal utama. Ia pun memutuskan tak mau setengah-setengah mengerjakan usaha kain tradisional Toraja. Mulailah ia bersama teman merancang desain, mencari pasar hingga menjual sendiri. Hasilnya sebuah branding yang dikenal di kalangan menengah atas dan fashionista di luar negeri :Toraja Melo®.

Toraja Melo yang artinya adalah Toraja yang indah menghasilkan berbagai produk olahan kain tenun. Mulai dari tas, baju, selendang, jaket hingga selendang. Di blog pribadi milik Dinny (http://torajamelo.blogspot.com) , ia menjelaskan bahwa tenunan tersebut sangat unik. Kain tenun tersebut merupakan hasil kerja para perempuan dari Sa’dan, sebuah kampung di Kabupaten Toraja Utara, Propinsi Sulawesi Selatan. Varian produk olahan kain tenun tesebut ia variasikan dengan kulit yang dibuat di pulau Jawa. “Sehingga hasil karya di tangan Anda adalah gabungan kriya Indonesia,” promosinya dalam blog itu. Lebih jauh ia menjelaskan pula bahwa dengan membeli hasil karya tersebut maka secara langsung dapat membantu kesejahteraan perempuan-perempuan Sa’dan Toraja sembari menjaga keabadian warisan nenek moyang yang sudah berusia ratusan tahun.


Kehadiran internet bagi Dinny, sebagai satu terobosan penting. Bagi perempuan yang ingin memulai usaha, promosi di internet layaknya sebuah bantuan utama. Pasalnya, semua dapat dikerjakan di dalam rumah namun akses secara internasional terbuka luas. Hal ini ia lakukan untuk menggerakkan pasar yang lebih luas bagi produknya. Mekanisme tradisional ia tetap pakai dan menggabungkannya dengan secara langsung memasarkan kepada kerabat dekat dan teman-temannya. Hasilnya memang belum cukup untuk mengembalikan modal, namun cukup mampu menjangkau banyak orang. Hal ini lantaran dilakukan dari mulut ke mulut.

Langkah besar ia lakukan pula dengan berpromosi dari pameran ke pameran. Agak sulit menembus pameran berskala nasional, namun berkat jaringan pertemanan yang ia miliki ia bersyukur dapat menembusnya. Menurutnya melalui pameran, ia bisa menjajal kualitas produk buatannya. Ia dapat saling bertukar informasi dan mendapat trik meraup pasar.

Meski tergolong baru, produk ia luncurkan sekitar tahun 2009 dan baru dipamerkan pada kegiatan pameran-pameran besar pada 2010, namun siapapun yang tahu tentang kualitas produk pasti mengenal Toraja Melo. Ia sengaja menyasar kalangan menengah atas karena ingin mempertahankan kualitas bahan produknya. Harga yang dipatok pada kisaran Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. Ini disebabkan pembuatannya selain pure handmade, ia juga bekerjasama dengan perancang profesional agar produk tradisional yang dipadukan modernitas dapat fashionable. “Selain fungsional, juga harus fashionable,” tukasnya.

Makanya, Dinny mengaku modal awal sebesar Rp 120 juta, lebih banyak digunakan untuk membeli kain dan mendesain. “Saya membayar desainer dari Jakarta, produksinya juga di Jakarta. Karena saya juga modifikasi dengan kulit jadi biayanya cukup besar. Karena sebenarnya kain tenunnya sangat sederhana yakni garis-garis seperti lurik, jadi saya harus memikirkan garis besar desainnya. Makanya, harus berbicara dengan orang profesional supaya bisa menerapkan dalam produk itu. Corak kain yang sederhana sehingga saya harus menonjolkan pada desain dan kualitasnya,” urainya .

Dinny menjelaskan semua produk buatannya tak ada yang sama. Lebih limited dari limited edition. One of a kind. “Tas buatan kami adalah kombinasi kain tenun Toraja dan kulit. Karena tenunnya tidak pernah ada yang sama, maka semua tasnya berbeda. semua tas hanya satu-satunya di dunia. Harusnya memang lebih mahal dari Louis Vuitton ya, tapi pasarnya belum menangkap seperti itu,” ucap Dinny menyebut tas buatan perancang dunia.

Dinny mengatakan hingga kini ia belum mencapai Break Event Point (BEP) lantaran biaya branding masih lebih besar ketimbang pemasukan. Meski begitu ia tak mau menurunkan kualitas. Ia tetap memilih tenunan tangan sehingga kualitas kepadatan kain tetap terjaga. Lantaran itu, ia memang harus merogoh kocek lebih dalam. Toh, ia yakin usaha ini juga untuk menaikkan pamor kain tenun Toraja seraya tetap menghargai hasil karya perempuan penenun. “Kami memang mematok harga yang cukup tinggi bagi penenun. Selama ini soal harga mereka dipermainkan oleh pemasok kain. Makanya, kesejahteraan penenun tak terjamin. Kalau harga bagus, tentu mereka akan menghasilkan kain yang lebih bagus,” ungkapnya. Sebab itu pula ia dituduh pengumpul kain Toraja merusak harga pasaran kain. Pengumpul kain biasanya membeli kain tenun dari penenun lalu menjual kembali ke toko-toko di Toraja atau Makassar.

Kegigihannya mempertahankan kualitas dan mempromosikan ke berbagai tempat, berbuah manis. Ia akhirnya mampu menembus istana. Untuk masuk ke lingkaran istana, kualitas adalah nomor satu. Tim istana menilai kreasi kain tenun Toraja Melo memiliki mutu di atas rata-rata sehingga diperkenankan untuk dipamerkan di istana negara. Ketika Presiden Amerika Serikat Barrack Obama berkunjung ke Indonesia, Toraja Melo menjadi pilihan istri Obama, Michelle Obama. Michelle memilih tas merah kreasi Toraja Melo. “Waktu presiden Obama dan istri mau datang seluruh produk-produk unggulan dari seluruh Indonesia diseleksi. Ternyata kami terpilih. Tas Toraja Melo warna merah jadi pilihan Michelle. Tas itu memang cantik sekali,” ujar Dinny tersenyum.

Berkat promosi internet dan pertemanan pula, ia mampu menembus pasar Hollywood. Ini bermula ketika ia menjadi guide on camera untuk Travel Channel dan Discovery Channel. Mereka yang tadinya membuat dokumenter tentang Toraja kemudian melihat berbagai kreasi Toraja Melo lantaran ikut muncul di film "Andrew Zimmern the Bizzare World on Sulawesi". Sebulan setelah itu, tim Hollywood tersebut menghubungi Dinny dan meminta kesediaannya untuk memasarkan di Amerika Serikat. Jadilah, pasar Toraja Melo merambah pula ke Hollywood. “Ini kebesaran Allah, tak ada kebetulan di dunia ini,” ucapnya.

Ia berharap pada tahun ketiga, Toraja Melo sudah mampu memenuhi BEP. Sudah untung dan tak merugi lagi. Saat ini menurut Dinny masih merugi, karena biaya pemasaran yang masih lebih tinggi daripada pemasukan. “Kalau bisa dua tahun sudah BEP, saya alhamdulillah. Mudahan-mudahan karena saya punya keunggulan pada kualitas. Kalau tidak untung maka tidak bisa mengejar pada kualitasnya,” tuturnya. (Nurliah Simollah)

Komentar