Keanekaragaman flora dan fauna di negeri Papua menjadi berkah tersendiri. Dikitari pegunungan Jayawijaya, Pulau berjuluk Negeri Cendrawasih ini dianugerahi kondisi alam dan tanah yang subur. Hal ini menjadi sorga tersendiri bagi sejumlah jenis tanaman dan habitat hewan. Ternyata, bukan hanya tanaman dan hewan menjadikan Papua sebagai sorganya, pun seorang peneliti. Biodiversitas yang melimpah di pulau berbukit tersebut
mencetak sejarah lahirnya seorang peneliti yang berhasil menemukan sejumlah obat-obat mujarab hasil riset tanaman endemik Papua.
Adalah Drs I Made Budi MSc. Kepekaannya mencermati keadaan masyarakat dan lingkungan Papua, membawa staf pengajar Fakultas MIPA Uncen ini pada sebuah temuan bahwa buah merah memiliki khasiat yang sangat besar. Peneliti yang mendalami masalah nutrisi dan gizi masyarakat ini mencermati masyarakat yang hidup di desa-desa di kawasan pegunungan Jayawijaya memiliki stamina yang prima. Kendati cuaca sangat dingin dan hidup sehari-hari dengan serba terbatas serta tak memakai busana, namun kondisi fisik mereka tetap bugar dan sehat. Istimewanya lagi, mereka jarang terkena penyakit degeneratif seperti jantung, kanker, hipertensi dan diabetes.
Ternyata, masyarakat desa tersebut mengonsumsi buah bernama latin Pandanus conoideus Lam. Tanaman yang tergolong keluarga pandan-pandanan memiliki pohon yang menyerupai pandan. Bentuk buah lonjong dengan kuncup tertutup daun buah yang panjang buahnya mencapai 55 cm, diameter 10-15 cm, dan bobot 2-3 kg. Warnanya saat matang berwarna merah marun terang. Walau ada juga jenisnya yang memiliki warna buah coklat atau coklat kekuningan. Budidaya tanaman ini awalnya dimulai sejak tahun 1983. Ia dipelopori oleh seorang warga Papua, Nicolaas Maniagasi.
Ketika menempuh pendidikan pascasarjana tahun 2000 di Institut Pertanian Bogor (IPB), suami Siti Sunarsi Yulita ini memilih obyek penelitian buah merah. Hasilnya mencengangkan, kandungan nutrisi buah merah tersebut sangat tinggi khususnya kandungan karoten, betakaroten, tokoferol. Disamping itu pula mengandung beberapa zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh yakni asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dekanoat, Omega 3 dan Omega 9. Semua zat tersebut merupakan senyawa aktif penangkal terbentuknya radikal bebas dalam tubuh. Dalam beberapa penelitian terbatas yang dilakukan Made Budi dengan metode pengobatan langsung dengan sari buah buah merah, peneliti mengungkapkan keberhasilan yang amat tinggi dalam pengobatan penyakit tumor otak, tumor kandungan, tumor payudara, kanker hati, bahkan juga HIV/AIDS pada pasien-pasien di Papua maupun di Jawa.
“Sebenarnya konsumsi buah merah ini sudah diperkenalkan sejak Zaman Belanda. Anak-anak yang bersekolah secara berkala diberikan asupan buah merah. Orang Belanda itu sudah tahu khasiatnya hanya saja mereka tak mau memberitahu. Ilmunya tidak dikasih ke kita. Makanya, dulu hanya dijadikan makanan fungsional saja. Jika ada upacara adat atau ada yang sakit mata, atau penyakit kulit,” jelasnya.
Sejak itu, ia terus mengembangkan saripati buah merah yang dimodifikasi dalam bentuk kapsul lunak hingga losion. Produksi obat herbal tersebut diminati banyak orang baik di seluruh Indonesia maupun mancanegara. Berkat temuan mesin teknologi tepat guna dalam memproduksi kapsul, maka hasil yang diproduksi dapat dibuat lebih banyak. Tak hanya mendatangkan rezeki nomplok bagi Made, ia juga mampu membantu sejumlah penelitian terkait buah merah yang dilakukan beberapa akademisi.
Tahun 2009 ia menyumbang dana penelitian sebesar Rp 55 juta, menyusul kemudian sekitar Rp 98 juta untuk penelitian uji aktivitas litium ekstrak buah merah untuk menekan gondok bagi ibu hamil. Selain mahasiswa, juga secara lembaga ia hibahkan bantuan dana kepada UGM dan ITB yang besarannya mencapai Rp 700 juta. Ia juga memberi keleluasaan setiap lembaga pendidikan yang ingin melakukan kunjungan penelitian. Hingga saat ini sejumlah organisasi baik dalam dan luar negeri telah melakukan studi banding ke laboratorium dan pabrik pembuatan kapsul buah merah Made.
“Saya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari hasil produksi buah merah ini.Uang itu untuk kelanjutan penelitian tentang buah merah. Saya meminta peeneliti lainnya meneliti kandungan lain dari buah merah untuk menemukan obat diabetes dan kolesterol dan penyakit lainnya. Sumbangsih saya kepada bangsa hanya dalam bentuk ini. Meskipun tak ada sepeserpun bantuan pemerintah, saya terus mendorong peneliti untuk mengembangkan riset yang sudah saya lakukan. Saya ini peneliti kampung, hanya peneliti kecil, tapi syukurnya mampu memberi efek seperti salju yang terus membesar,” ucapnya tanpa bermaksud menyombongkan diri.
Penelitian yang terus menerus terhadap buah merah tersebut, mengukuhkan Made sebagai pakar buah merah. Penerima Upakarti untuk penelitian pada buah merah ini kembali menemukan obat bagi penyakit jantung. Dengan mencampur ekstrak buah merah dan buah cokelat, Made merilis temuannya bagi pengobatan penyakit jantung. “Ini pertama di Indonesia, bahkan juga di dunia,” terangnya.
Satu kendala yang kini menghampirinya adalah dalam membuat kulit kapsul. Pasalnya, selama ini ia belum bisa memproduksi sendiri kulit kapsul. Sebenarnya ia berencana membeli langsung mesin pembuat kulit pil tersebut, namun anggaran produksi tak mencukupi. Ia membutuhkan paling sedikit Rp 1,5 miliar dana untuk membeli mesin khusus pembuat kulit kapsul. “Kalau pesan di Jawa harga produksi jauh lebih tinggi sekitar Rp 300 juta, seandainya punya mesin sendiri bisa lebih murah dan dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Saya ingin semua dapat menikmati khasiat buah merah ini. Untuk itu, jika pemerintah ingin membantu, satu hal yang saya inginkan mesin tersebut,” ucapnya.
Sumbangsih Made pada lingkungan alam sekitarnya juga cukup besar. Berkat produksi masal buah merah tersebut, hampir seluruh warga Wamena serta Papua membudidayakan tanaman kuansu (nama pemberian masyarakat Wamena). Harganya yang melonjak tinggi dari yang hanya Rp 2000-3000 kini bisa mencapai Rp 50.000 hingga 150.000 per buah. Alhasil di tiap lereng bukit, di pesisir DAS yang gundul sudah banyak ditanami buah merah. Menurut Made, tanaman Kuansu tersebut dapat menjadi penyelamat erosi di sekitar aliran DAS. Tanah menjadi kuat. Karena dapat juga menjadi tanaman tumpang sari maka disela tanaman buah merah ditanami pula pohon kopi yang mampu menjaga erosi pada aliran sungai.
“Ini sangat positif bagi lingkungan. Tak hanya melindungi DAS, juga melindungi kelangsungan hidup burung cenderawasih. Sebab, buah merah ini adalah makanan utama burung cenderawasih. Dulu dianggap satwa ini mulai punah, namun berkat maraknya tanaman ini tumbuh membuat burung yang jadi ikon Papua terlindungi lagi,” tuturnya.(NS)
Biofile
Nama Lengkap : I Made Budi
Tempat/tanggal lahir : Dumoga, Bolaang Mongondouw, Sulawesi Utara, 2 Juni 1960
Pekerjaan : Staf Pengajar dan Peneliti di Universitas Cenderawasi, Papua Fakultas MIPA
Pendidikan :
- SMA di Bolaang Mongondow
- Perguruan Tinggi IKIP Menado Fakultas MIPA
- Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) Jurusan Pangan dan Gizi
Penghargaan : Upakarti Award oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono
Nama Istri : Siti Sunarsi Yulita
Nama Orang Tua : Gomboh dan Rai

Komentar
Posting Komentar