Alih Fungsi Hutan, Ancaman Spesies Endemik di Kawasan Wallacea
Jika Afred Russel Wallace masih hidup, ia akan kecewa.Ungkapan kagumnya bisa jadi berubah menjadi kesedihan apabila menyaksikan kembali satwa endemik Celebes yang unik. Ini lantaran satwa yang dikaguminya mulai punah akibat habitat asli satwa tersebut telah berubah fungsi menjadi kawasan pertambangan, pemukiman, transmigrasi, perkebunan ataupun persawahan.
Perubahan alih fungsi hutan menjadi nonhutan atau hutan konservasi menjadi hutan produksi selalu pasti memiliki dampak terhadap ekosistem lingkungan hidup, sosial, budaya, dan ekonomi. Tapi dampak paling nyata adalah terancamnya keanekaragaman hayati. Ancaman paling nyata dapat disaksikan di Sulawesi atau disebut kawasan (bioregion) Wallacea. Spesies endemis yang disebut-sebut Alfred Russel Wallace dalam uraiannya berjudul The Malay Archipelago setelah ekspedisinya di Nusantara pada 1850-an hingga 1860-an sebagai spesies endemik yang mengagumkan perlahan-lahan mulai punah.
Pulau Sulawesi terletak persis di tengah-tengah Nusantara. Kendati dikitari daerah-daerah dengan keanekaragam hayati beragam, Sulawesi menunjukkan keunikan pada spesies endemiknya. Beberapa spesies hewan dan tumbuhan hanya dapat ditemui di Sulawesi. Wallace menduga, para leluhur flora dan fauna yang berada di pulau Sulawesi berasal dari lempeng-lempeng benua yang berbeda kemudian bergerak dan bersatu di Sulawesi.
Dugaan Wallace diperkuat oleh ahli geologi yang bersepakat bahwa pulau celebes merepresentasikan kompleksitas geologi kepulauan Indonesia bagian Timur. Ia merupakan tempat bertemunya tiga lempeng benua yakni Eurasia, Indo-Australia, dan Samudra Filipina. Secara sederhana menurut pakar Geologi Ade Kadarusman, PhD bahwa bagian-bagian pulau Sulawesi, jutaan tahun yang lampau, pernah berada di areal yang berbeda-beda. Secara perlahan bergabung dalam kurun waktu berbeda.
Akibat kompleksitas dan keunikan geologi inilah, Sulawesi dan beberapa Indonesia bagian timur lainnya memiliki keanekaragaman hayati mengagumkan sesuai lempeng benua asalnya. Hasilnya, dari 165 jenis hewan mamalia yang endemik Indonesia, hampir setengahnya (46%) ada di Sulawesi. Dr John Tasirin, dari Sulawesi Program Coordinator Wildlife Conservation Society, Manado, Sulawesi Utara menyatakan, populasi beragam jenis satwa endemik Sulawesi terancam punah akibat rendahnya apresiasi masyarakat terhadap alam. Pulau Sulawesi memiliki nilai tinggi untuk konservasi sebab tingkat endemiknya tinggi. Dari 127 jenis mamalia, 79 (62%) endemik. Dari 233 jenis burung yang ditemukan di Sulawesi, 103 (44%) endemik. Sementara dari 104 jenis reptilia di Sulawesi, 29 (28%) endemik. Primata Sulawesi juga menakjubkan, yakni dari 11 jenis monyet Macaca di dunia, tujuh jenis endemik di Sulawesi.
Semenanjung utara Sulawesi (tanah Minahasa, Totabuan dan Gorontalo) merupakan kawasan terpenting di Sulawesi. Kawasan ini didiami oleh 89 atau sekitar 86% dari 103 jenis burung endemik di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya. Pernahkah anda membayangkan bahwa ada sebanyak 38 jenis tikus endemik Sulawesi. Hampir setengahnya (45%, 17 jenis) ada di semenanjung utara Pulau Sulawesi. Semenanjung utara ini juga menjadi rumah dari 20 jenis kelelawar buah endemik Sulawesi. Itu berarti, sebagian besar (atau lebih dari 83% dari 24 jenis) kelelawar endemik Sulawesi terdapat di kawasan ini.
Sulawesi memiliki sejumlah satwa endemik yang menakjubkan, Hanya beberapa diantaranya yang akan disajikan disini. Maleo (Macrocephalon maleo) menimbun telurnya di dalam tanah dan dierami oleh panas bumi atau matahari. Babirusa (Babyrousa babyrussa) memiliki dua cula yang mirip gading pada gajah. Cula ini adalah taring, bagian dari geligi atas pada masa muda yang kemudian bertumbuh dan menembus moncong atas lalu melengkung ke arah mata. Yaki utara, the crested black macaque, (Macaca nigra) adalah primata terbesar di Sulawesi.
Anoa (Bubalus spp.) adalah kerbau katai yang pada saat berdiri hanya mencapai tinggi satu meter dari tanah ke punggung. Kuskus (Ailurops ursinus dan Stigocuscus celebensis) adalah jenis marsupial (hewan berkantong) yang berkerabat dengan kangguru di Australia. Tidak ada marsupial yang ditemukan di seberang pantai barat Sulawesi. Sebaran marsupial berhenti sampai di Sulawesi. Musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroeckii) adalah hewan karnivora (pemakan daging) berukuran besar yang paling misterius di dunia. Semua satwa ini bisa ditemukan di semenanjung utara Sulawesi.
Kunjungan Wallace ke Sulawesi pada 1856, membuatnya singgah di Maros untuk melakukan ekskursi di sepanjang sungai Maros. Ia menemukan limpahan jenis kupu-kupu. Wallace pun memberi julukan kawasan Bantimurung sebagai The Kingdom of Butterfly.
Taman Nasional Bogani Naniwartabone (TNBWN) merupakan habitat asli satwa endemik seperti burung maleo, monyet Dumoga-Bone, dan kelelawar Bone. Seperti disebutkan dalam tulisan ini, Taman Nasional ini terancam rusak akibat sejumlah perusahaan pertambangan melakukan eksplorasi di kawasan hutan konservasi tersebut. Jika habitat rusak, kepunahan satwa endemik itupun terancam.
Jika tetap ngotot melakukan pertambangan dikawasan TNBNW, maka harus siap dengan konsekuensi berkurangnya atau punahnya flora dan fauna endemik, antara lain monyet hitam/yaki (Macaca nigra), monyet dumoga bone (Macaca nigrescens), tangkasi (Tarsius spectrum), musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii), anoa besar (Bubalus depressicornis), anoa kecil (Babulus quarlesi), babirusa (Babyrousa babirussa), kuskus (Phalanger Ursinus), kelelewar bone (Bonea bidens), dan kelelawar badak (Rhinolapas sp).
Diantara berbagai spesies endemik Sulawesi yang ada, TNBNW memilih burung maleo (Macrocephalon maleo) sebagai maskot Taman Nasional ini. Tak banyak publikasi tentang TNBNW yang ternyata memiliki satu lagi burung endemik langka. Burung ini bernama Cinnabar Hawk-owl (Ninox ios). Selain satwa, beberapa spesies pohon-pohon langka yang dilindungi juga ada di Taman yang dulu bernama Dumonga Bone ini antara lain Palm matayangan (Pholidocarpus ihur), kayu hitam (Diospyros celebica), kayu besi (Intsia spp.), kayu kuning (Arcangelisia flava), kayu bugis (Koordenisidenrum pinnatum), kayu cempaka (Elmerillia ovalies), kayu Inggris (Equalyptus deqlupta), dan bunga bangkai (Amorphophallus companulatus).
Lebih dari seratus jenis burung di Indonesia terancam punah akibat beralihfungsinya hutan menjadi lahan pertanian dan permukiman. Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia atau dikenal dengan nama Burung Indonesia mencatat, dari 1.594 jenis burung yang ada di Indonesia sekitar 122 jenisnya terancam punah, dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkannya dalam Daftar Merah. Rinciannya adalah 18 jenis berstatus Kritis (Critically Endangered/CR), 31 jenis Genting (Endangered/EN), dan 73 jenis tergolong Rentan (Vulnerable/VU).
Dari 18 jenis burung yang terancam punah dengan status kritis tersebut, lebih dari setengahnya berada di hutan dataran rendah yang berada di pulau-pulau kecil seperti Sangihe, Siau, Buru, Lombok, Sumbawa, Flores, Banggai, dan Bali. Kecuali Bali, semua pulau-pulau kecil tersebut berada di kawasan Wallacea. Seriwang sangihe (Eutrichomyias rowleyi), kacamata sangihe (Zosterops nehrkorni), anis-bentet sangihe (Colluricincla sanghirensis), celepuk siau (Otus siaoensis), tokhtor sumatera (Carpococcyx viridis) merupakan sebagian jenis burung terancam punah (Kritis).
Begitu pula dengan seriwang Sangihe, anis-bentet Sangihe, dan kecamatan Sangihe yang keberadaannya ditemukan kembali pada Oktober 1998 setelah sekian lama tidak diketahui, bahkan dianggap telah punah. Kelestarian jenis-jenis ini sangat bergantung pada hutan di pegunungan Sahendaruman. Hutan dibagian selatan Pulau Sangihe, Sulawesi Utara itu luasnya hanya tersisa sekitar 500 hektare. Alih fungsi hutan menjadi pertambangan, pemukiman dan lahan pertanian merupakan ancaman serius bagi kelestarian jenis-jenis dengan status kritis ini. Jenis-jenis kritis tersebut menghadapi ancaman kepunahan bukan hanya karena populasinya kecil, melainkan hutan alam sebagai habitat utama mereka mengalami kerusakan. Luasan dan kualitas tutupan hutan alam Indonesia, utamanya hutan dataran rendah, sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup mereka.
Burung merupakan bagian dari keragaman hayati yang sangat menggantungkan hidup pada hutan. Burung dan hutan memiliki hubungan timbal balik tak terpisahkan. Dari total 10.000 jenis burung di dunia sekitar 1.594 jenis ada di Indonesia yang 353 jenisnya merupakan endemik: hanya hidup di Indonesia. Indonesia, negara yang terletak antara dua benua dan dua samudera, dikenal sebagai Megadiversity Country karena peranannya sebagai konsentrasi keragaman hayati dunia. Diperkirakan, sekitar 10% tumbuhan berbunga, 12% mamalia, serta 16% reptilia dan amfibia di dunia ada di Indonesia.
Hutan alam Indonesia merupakan lumbungnya keragaman hayati disamping berfungsi menyerap emisi karbon. Selain dimanfaatkan sebagai sumber pangan, papan, dan obat-obatan, sebanyak 40 juta penduduk Indonesia di pedesaan menggantungkan hidupnya dari keragaman hayati ekosistem hutan. Diperkirakan pula, tumbuhan obat Indonesia yang bersumber dari keragaman hayati bernilai 14,6 miliar dollar AS atau dua kali lipatnya produk kayu.
Keragaman hayati merupakan tulang punggung kehidupan yang ada di bumi. Dalam keragaman hayati tercakup keragaman ekosistem, spesies, hingga genetika yang semuanya itu merupakan suatu jaringan tak terpisahkan antara organisme dengan lingkungannya.Karena Peraturan Pemerintah ini berlaku secara nasional, maka tidak hanya kawasan hutan lindung seperti yang tersebut di atas saja yang akan digali, hampir semua daerah yang memiliki hutan lindung dengan kekayaan alam yang tinggi juga akan dieksplorasi. Padahal setiap daerah memiliki keunikan dan keberagaman flora dan fauna yang berbeda.
Konversi hutan menjadi kawasan nonhutan menghancurkan keanekaragaman hayati yang memukau Wallace. Kerusakan hutan secara permanen terus terjadi, peningkatan pemberian izin bagi usaha perkebunan sawit dan pinjam pakai kawasan hutan untuk pertambangan. Ini bisa dilihat dari luas kawasan perkebunan sawit terus meningkat. Dari hanya 1,26 juta ha naik menjadi 7,82 ha tahun 2008. Ketika memasuki tahun 2010 luasannya kembali naik menjadi 9,09 ha. Sementara kawasan pertambangan di areal hutan lindung terus pula meluas.
Di Halmahera seluas 13,3 ribu ha, Gorontalo seluas 14 ribu ha. Total izin pinjam pakai untuk kawasan pertambangan di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 150 ribu ha. Bahkan menurut Walhi, sekitar 160 lokasi baru pertambangan di kawasan hutan di 26 provinsi tengah digodok untuk disetujui. Alhasil, tak hanya keanekaragaman hayati terancam punah, ribuan orang terancam tewas dan lainnya menjadi pengungsi akibat bencana banjir dan tanah longsor yang disebabkan oleh kerusakan di bagian hulu: hutan. (NS)
Komentar
Posting Komentar